Rabu, 01 Februari 2017

That uh-oh word

Hidup mahasiswa tingkat akhir pasti gak lepas dari satu kata: revisi. Yak, revisi disini, revisi disana, revisi dimana-mana. Sehabis bimbingan, terbitlah revisi. Sehabis preview, terbitlah revisi. Revisi is layf.
Bahkan, temen gue yang udah selesai sidang akhir aja masih revisi. Ya, manusia emang gak ada yang sempurna. Dan revisi sangat mencerminkan itu. Manusia emang gak pernah puas, seperti dosen-dosen yang selalu memberi revisi. Udah di revisi ini, yang itu salah. Ngerevisi yang itu, si ini jadi diganti lagi. Hidup itu berputar, seperti laporan pengantar Tugas Akhir gue yang revisiannya masih muter-muter.
Mak, aku mumet.
Selain revisi, ada lagi musuh mahasiswa tingkat akhir yang paling bahaya: malas. Ya, percayalah. Karena gue mempunyai dosen pembimbing yang tidak menerapkan deadline, jadilah gue malas dan mengundur-undur buat meneruskan TA gue. Ini gak bisa dibantu orang lain, ini gak bisa cuma modal disemangatin orang lain, ini cuma ada satu obatnya: kesadaran diri sendiri. Andai rasa males bisa diobatin kayak sakit batuk, niscaya gak bakal ada pengangguran di dunia ini.
Ada lagi yang menghantui mahasiswa tingkat akhir selain Tugas Akhir atau skripsi. Yaitu: abis kuliah mau ngapain? Nikah? Sama siapa buset. Kerja? Kerja dimana? Di Bandung apa Jakarta? Mau kerja jadi apa? Bahagialah wahai engkau para mahasiswa yang sudah kerja sebelum lulus kuliah. Pecayalah, ada perasaan iri yang tak bisa dipungkiri. Sedangkan bagi mahasiswa-mahasiswa yang masih kayak gue: Ayo kita berjuang bersama-sama untuk mengarungi kehidupan yang lebih baik sambil berusaha meraih gelar sarjana dalam genggaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar